Enggan Menolong Kaum Tertindas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hanin Ziadi

 

Mukmin satu dengan mukmin yang lainnya diikat oleh kalimat tauhid; dari mana pun dia berasal, bagaimana pun warna kulit, dan dengan bahasa apa pun dia berko munikasi. Ikatan iman itu menuntut adanya kebersamaan rasa dalam suka dan duka.

Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad. Jika salah satu anggotanya menderita sakit maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hari ini kita melihat fenomena yang luar biasa sangat menyedihkan. Kaum Muslimin dihinakan, dizalimi, bahkan digadaikan nyawanya di mana-mana. Tidak saja di negeri minoritas Muslim seperti Myanmar, tetapi di negeri mayoritas Muslim sendiri pun kaum Muslimin menjadi mangsa pemerintah dan aparat setempat.

Sebagai seorang yang mengaku beriman dan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW, alangkah lemahnya jika kita hanya mencukupkan diri dengan doa semata atau sekadar mela yangkan protes keras di media massa, apalagi sekadar share berita di dunia maya. Saudara-saudara kita di sana membutuhkan lebih dari itu semua. Mereka membutuhkan jaminan keamanan, desakan internasional, dan solidaritas konkret dunia Islam beserta kaum Muslimin seluruhnya berupa bantuan dana besar, bahkan tentara bersenjata.

Allah SWT berfiman, “Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan ….” (QS al-Anfal: 72) Namun, kaum Muslimin abai. Pemerintah negara Muslim pun seolah buta dan tuli. Mereka sibuk dengan urusan dalam negeri sendiri. Mereka tidak memandang iman, apalagi kemanusiaan mereka.

Akibat keengganan kaum Muslimin menolong saudaranya yang tertindas itu, Allah tampakkan kehinaan pada kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim membiarkan Muslim lainnya (tanpa mendapatkan pertolongan) saat kehormatannya dirampas dan harga dirinya dirusak, kecuali Allah akan menghinakannya saat ia membutuhkan pertolongan- Nya.” (HR Abu Dawud).

Bukan hanya kehinaan di dunia, melainkan kehinaan pula di akhirat. Sabda Rasul SAW, “Barang siapa yang di hadapannya ada seorang Muslim yang dihinakan akan tetapi dia tidak menolongnya padahal ia mampu menolongnya, Allah akan menghinakannya di hadapan seluruh makhluknya pada hari kiamat.” (HR Ahmad).

Padahal, apa yang tidak dimiliki oleh kaum Muslimin? Negara-negara Muslim yang terbilang kaya banyak. Kekuatan senjata kita miliki. Belum lagi sumber daya manusia Muslim yang jumlahnya luar biasa. Namun, semua itu tidak bisa menghilangkan predikat kaum Muslimin sebagai “kaum dengan nyawa yang termurah” di muka bumi.

Pernah suatu ketika Ibnu Abbas RA sedang beriktikaf di Masjid Nabawi. Tiba-tiba datang seseorang menemuinya untuk meminta tolong akan suatu keperluan. Ia pun lekas keluar masjid menghentikan ibadah iktikafnya seraya berkata, “Aku mendengar pemilik makam ini, yaitu Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, maka hal itu lebih baik baginya dari beriktikaf selama 10 tahun.'” (HR Thabrani).

Jika menolong suatu keperluan orang lain yang berkaitan dengan urusan dunia diganjar dengan pahala dahsyat melebihi iktikaf 10 tahun, lalu bagaimana dengan menolong keselamatan agama, jiwa, harta, dan kehormataan saudara seakidah kita? Jadi, akibat enggannya kita menolong kaum Muslimin, Allah membiarkan kita dipermalukan dan terhinakan oleh musuh. Seharusnya kita bersikap keras terhadap mereka, mengokohkan solidaritas, mendukung Islam dan kaum Muslimin, meninggikan kalimat Allah, dan memerangi kezaliman dan orang-orangnya.