Harum karena Bau

Bunga melati itu harum karena baunya bukan karena namanya. Diganti nama apapun, misalnya diganti dengan bunga bangkai, melati itu tetap harum. Diubah sebutannya. dengan bunga tembelekan, tetap saja melati itu semerbak wangi.

 

Berbeda jauh dengan manusia, yang lebih mementingkan nama. Ada nama yang menggambarkan kepintaran, ternyata suka minteri. Ada nama yang mencerminkan pemimpin, ternyata perilakunya hina dan dzolim. Ada nama keagungan, ternyata nyinyir, suka iri dan dengki bahkan ada nama Yang Terhormat ternyata culas , suka menginjak-injak kaum papa dan  senang mencuri hak rakyat .

 

 

Sebaiknya kita belajar dari bau melati tersebut. Sejak dia dilahirkan di bumi ini, ia tetap mewangi. Kita, manusia yang juga mempunyai sejarah panjang tetap saja banyak yang hipokrit, munafik, nafsi nafsi dalam kepentingan nafsu yang cenderung tak manusiawi. Satunya kata dan perbuatan, merupakan fakta yang langkah.  Nama baik penting tapi esensi dari nama itu jauh lebih penting. Alangkah hebatnya manusia, walaupun dianggap Yang Terhina, tetapi perilakunya menunjukkan kemuliaan dan membawa keharuman.